Banyak banget anak muda Indonesia yang penasaran sama program au pair, tapi masih seringkali kebingungan karena banyaknya mitos au pair yang beredar. Ada yang bilang au pair itu sama aja kayak jadi babysitter, ada juga yang mikir dengan ikut au pair bisa dapet duit gede kayak kerja full time. Padahal nggak gitu kenyataannya, lho! Sebenarnya, au pair itu lebih ke pengalaman budaya dan belajar bahasa sekaligus ngerasain hidup bareng host family (keluarga angkat) di luar negeri. Nah, biar nggak salah paham, yuk kita bahas mitos dan fakta au pair yang sering muncul dan meluruskannya dengan fakta program aupair yang sebenarnya berdasarkan aturan resmi dan pengalaman nyata para alumni. 

Tapi sebelumnya, baca dulu yuk tentang Apa itu Aupair disini agar kamu lebih paham.

Mitos dan Fakta Au Pair Yang Wajib Kamu Tahu

Apa Itu Program Au Pair dan Mengapa Banyak Disalahpahami

Program au pair sering kali disalahpahami oleh banyak orang, terutama karena masih kurangnya informasi yang benar tentang program ini. Sebagian orang mengira au pair sama seperti pekerjaan rumah tangga atau babysitter biasa, padahal sebenarnya program ini dirancang sebagai pertukaran budaya antara anak muda dan keluarga angkat di luar negeri. Melalui program au pair, peserta tidak hanya membantu menjaga anak-anak host family, tetapi juga mendapatkan kesempatan belajar bahasa, mengenal budaya baru, dan merasakan kehidupan di negara lain secara langsung. Inilah yang membuat program au pair berbeda dari pekerjaan pada umumnya.

Daftar 7 Hal yang Sering Disalahpahami Calon Au Pair

Banyak orang sering kali salah memahami program Au Pair. Hal ini terjadi karena mereka masih kekurangan informasi yang benar mengenai program tersebut. Sebagian orang mengira au pair sama seperti pekerjaan rumah tangga atau babysitter biasa, padahal sebenarnya program ini dirancang sebagai pertukaran budaya antara anak muda dan keluarga angkat di luar negeri. Melalui program au pair, peserta tidak hanya membantu menjaga anak-anak host family, tetapi juga mendapatkan kesempatan belajar bahasa, mengenal budaya baru, dan merasakan kehidupan di negara lain secara langsung. Inilah yang membuat program au pair berbeda dari pekerjaan pada umumnya. Simak penjelasan mitos dan fakta au pair sebagai berikut.

Mitos 1: Au Pair Sama dengan Babysitter atau Pembantu

Ini salah satu mitos au pair paling populer. Banyak yang mikir kalau jadi au pair itu sama aja kayak kerja jadi babysitter atau pembantu rumah tangga.

Faktanya, anggapan itu tidaklah benar. Tugas utama Au Pair hanya berfokus pada pengasuhan anak-anak keluarga angkat. Selain itu, aturan resmi setiap negara tujuan membatasi usia anak tersebut. Kamu tidak akan merawat anak di bawah usia 3 tahun. Oleh karena itu, kamu tidak akan merasa kewalahan karena mengurus bayi bukanlah tanggung jawab Au Pair.

Selain itu, Au Pair hanya membantu pekerjaan rumah tangga ringan. Membersihkan seluruh rumah bukanlah kewajiban kamu. Hal ini terjadi karena kontrak resmi telah mengatur pembagian tugas tersebut secara jelas. Kamu dan keluarga angkat menandatangani dokumen ini bersama sebagai kesepakatan sah. Jadi, Au Pair bukanlah pembantu, melainkan bagian dari keluarga angkat.

Mitos 2: Au Pair Sama Seperti Volunteer

Ada juga mitos au pair yang bilang kalau au pair sama kayak volunteer alias kerja sukarela.

Eitss, jelas berbeda sekali yaa. Au Pair tetap dapat uang saku tiap bulan, plus fasilitas lain seperti kamar pribadi, makan, dan kursus bahasa. Nominal uang saku beda-beda tiap negara, tapi lumayan banget karena kebutuhan pokok udah ditanggung host family

Banyak peserta Au Pair justru mampu menyisihkan uang saku mereka untuk menabung dan membiayai perjalanan wisata selama di Eropa. Oleh karena itu, meskipun program ini mengusung misi pertukaran budaya, kamu tidak boleh menyetarakan posisi Au Pair dengan program volunteer atau relawan murni. Sebab, Au Pair tetap menerima tunjangan finansial yang memungkinkan kamu menikmati gaya hidup mandiri sekaligus mengeksplorasi berbagai tempat menarik. Dengan demikian, program ini menawarkan keseimbangan antara pengalaman budaya dan stabilitas finansial bagi pesertanya.

Mitos 3: Program Au Pair Hanya untuk Perempuan

Banyak orang mengira bahwa program Au Pair hanya terbuka bagi perempuan. Padahal, anggapan tersebut sepenuhnya keliru. Program ini menyambut siapa saja, baik laki-laki maupun perempuan. Syarat utamanya, kamu harus menyukai anak-anak dan berkomitmen mengikuti seluruh aturan yang berlaku.

Selain itu, banyak Au Pair laki-laki telah membuktikan kesuksesan mereka dengan membangun hubungan yang rukun bersama host family serta menikmati setiap prosesnya. Oleh karena itu, gender sama sekali tidak menghalangi peluang kamu untuk meraih mimpi melalui program ini.

Mitos 4: Uang Saku Au Pair Bisa Dinegosiasi

Sebagian orang meyakini bahwa peserta Au Pair bisa menentukan besaran uang saku mereka sendiri. Namun, kenyataannya tidaklah demikian. Pemerintah negara tujuan telah menetapkan standar uang saku resmi dalam regulasi mereka. Meskipun nominalnya tidak terlalu besar, jumlah tersebut tetap menjamin kecukupan kebutuhan pribadi kamu. Oleh karena itu, kamu sebaiknya mempelajari aturan resmi ini terlebih dahulu. Tujuannya agar kamu memiliki ekspektasi finansial yang tepat sebelum berangkat.

Lagi-lagi, tujuan utama program ini bukan mencari uang, melainkan merasakan kehidupan au pair sebagai bagian dari keluarga angkat, berbaur dengan warga lokal, belajar bahasa, dan membangun pengalaman internasional.

Mitos 5: Setelah Au Pair Bisa Tinggal Permanen

Nah, ini mitos au pair yang sering bikin orang salah paham. Banyak yang kira setelah program au pair berakhir, otomatis bisa tinggal selamanya di luar negeri. Nyatanya tidak semudah itu yaa.

Salah satu fakta program au pair yang harus kamu tahu ialah bahwa visa au pair cuma berlaku 1 tahun saja lho. Jadi kalau mau lanjut menetap, kamu harus ganti jalur terlebih dahulu, misalnya kuliah, ausbildung, atau kerja resmi. 

Au Pair itu hanya pintu awalan sebagai pembuka jalan internasional, tapi bukan jalan pintas untuk menetap permanen.

Mitos 6: Host Family Memperlakukan Au Pair Seperti Pekerja

Banyak calon peserta Au Pair merasa khawatir jika keluarga angkat memposisikan mereka sebagai pekerja bayaran semata. Kekhawatiran ini memang wajar muncul karena peserta harus tinggal bersama dan mengasuh anak-anak keluarga tersebut. Namun, kamu perlu memahami bahwa anggapan itu tidak sesuai dengan kenyataan program yang sebenarnya. Sebab, aturan resmi program menjamin posisi kamu sebagai bagian dari keluarga, bukan sebagai buruh domestik. Oleh karena itu, kamu tidak perlu merasa cemas karena sistem pengawasan yang ketat tetap menjaga keseimbangan antara tanggung jawab dan hak-hak kamu sebagai anggota keluarga sementara.

Fakta penting lainnya adalah otoritas terkait menyeleksi setiap host family secara ketat untuk menjamin keamanan kamu. Selain itu, aturan program mewajibkan keluarga angkat memperlakukan Au Pair sebagai anggota keluarga inti. Mereka harus menyediakan fasilitas layak, mulai dari kamar pribadi dan konsumsi harian hingga pemberian uang saku serta dukungan penuh agar kamu bisa mengikuti kursus bahasa Jerman dengan lancar.

Apabila keluarga angkat melanggar aturan, kamu bisa segera menempuh jalur hukum resmi untuk melaporkan tindakan mereka. Oleh karena itu, kamu tidak perlu khawatir karena hukum negara tujuan menjamin keamanan dan melindungi posisi kamu sepenuhnya. Dengan demikian, kamu memiliki kekuatan hukum yang sah untuk membela hak-hak kamu selama mengikuti program ini.

Mitos 7: Au Pair Hanya Buang-Buang Waktu

Ada juga yang bilang, “Ngapain sih ikut au pair? cuma buang waktu.” Justru sebaliknya! Selama 1 tahun di negara tujuan, kamu bisa belajar bahasa asing, jadi lebih mandiri, punya teman internasional, dan dapat pengalaman tinggal di luar negeri. 

Banyak alumni YAIJ setelah masa au pair berakhir milih lanjut ke freiwilliges soziales jahr (FSJ), ausbildung, dan kuliah di Eropa. Bahkan jika kamu beruntung, ada juga lho host family yang bisa bantu rekomendasiin kamu buat kuliah atau kerja lewat koneksi yang mereka punya. 

Jadi, kehidupan au pair jelas jadi investasi masa depan, bukan buang-buang waktu.

Kesimpulan Mitos dan Fakta Au Pair

Seluruh penjelasan mengenai mitos dan fakta tersebut membuktikan bahwa anggapan keliru tentang Au Pair sering kali memicu kesalahpahaman bagi calon peserta. Padahal, jika kamu mencermati fakta program yang sebenarnya, jalur ini menawarkan kesempatan emas bagi muda-mudi yang ingin menguji kemandirian di luar negeri. Oleh karena itu, kamu tidak perlu ragu lagi untuk memulai langkah karena program ini menjamin perlindungan hukum sekaligus pengalaman budaya yang sangat berharga. Dengan demikian, sekarang adalah waktu yang tepat bagi kamu untuk mewujudkan mimpi hidup di Eropa dengan persiapan yang matang.

Jangan lupa juga, kehidupan au pair bukan sekadar kerja, tapi pengalaman berharga yang bisa jadi bekal buat masa depan.

Ingin Mengikuti Program Au Pair? Konsultasi Gratis di YAIJ

Konsultasi di YAIJ 100% gratis dan kamu akan dapat layanan pendampingan penuh, mulai dari persiapan bahasa, pengurusan dokumen, hingga saat program berlangsung di luar negeri. 

Jadi, kamu nggak akan merasa sendirian ketika sudah sampai di negara tujuan. YAIJ juga merupakan agen terpercaya yang sudah resmi masuk keanggotaan IAPA (International Au Pair Association), jadi keamanan dan kredibilitasnya sudah pasti terjamin.

Konsultasikan kebutuhan mu dengan klik link dibawah ini ⬇️

Cek peluang karirmu sekarang: https://yaij.id/cek-karir/

Jangan lupa Follow Instagram dan subscribe juga channel youtube YAIJ. Kumudian, temukan inspirasi dari para alumni yang kini telah berkarier di luar negeri!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *